Latest Post

Orang baik bukan hanya di masjid


Rabu, 09 Mei 2012





Oleh: H. Abdullah Haidir, Lc
Ketua MPW PKS Arab Saudi




Mengenal orang memang tidak mudah, apalagi memberi tazkiyah (rekomendasi kelakuan baik), tidak cukup orang itu kelihatan rajin shalat di masjid (meskipun hal ini diajarkan dalam Islam).

Suatu saat Umar bin Khattab kedatangan seseorang yang ingin memberikan persaksian di hadapannya. Maka Umar berkata kepadanya,

"Datangkan orang yang dapat memperkenalkanmu."

Maka datanglah seseorang. Lalu Umar bertanya kepadanya,

"Apakah kamu men-tazkiyah-nya? Apakah kamu telah mengenalnya?"

Dia berkata, "Ya"

Umar berkata, " Bagaimana kamu mengenalnya? Apakah kamu menjadi tetangganya sehingga kamu mengetahui pergi pulangnya?"

Orang itu berkata, "Tidak."

Umar berkata lagi, "Apakah kamu pernah bertransaksi dinar dan dirham (uang) kepadanya sehingga engkau mengetahui amanahnya orang ini?"

Orang itu berkata, "Tidak."

Umar berkata lagi, "Apakah kamu pernah safar bersamanya sehingga kamu telah mengetahui akhlak orang yang sesungguhnya?"

Orang itu berkata, "Tidak."

Lalu Umar bin Khattab berkata,

"Tampaknya kamu cuma melihat dia di masjid sujud dan ruku, lalu kamu men-tazkiyah-nya?!"

Orang itu berkata, "Ya."

Maka Umar bin Khattab berkata, "Pergilah, engkau sesungguhnya belum mengenalnya……"
 

Difitnah, Anis Matta akan Maafkan Wa Ode

Kamis, 03 Mei 2012 Jakarta (2/5) Wakil Ketua DPR Anis Matta menegaskan, tuduhan menekan Menkeu seperti dikatakan Wa Ode Nurhayati hanya menunjukkan ketidakpahaman yang bersangkutan dan didorong oleh motif mencemarkan nama baik dirinya dan juga pimpinan Badan Anggaran (Banggar). Untuk hal ini, Anis tidak akan menuntut balik. Baginya persoalan hukum adalah persoalan rasional, bukan persoalan emosional. “Atas pencemaran ini saya tetap akan memaafkan Wa Ode atas ketidakpahamannya. Dalam menegakkan hukum, yang dikedepankan adalah pendekatan rasional, bukan emosional. Lebih baik fokus bersama KPK memberantas korupsi,” jelas Anis. Tuduhan Wa Ode Nurhayati terhadap Anis Matta dalam kasus Dana Penyesuaian Infrastruktur Daerah (DPID) dianggap menunjukkan ketidakpahaman Wa Ode terhadap mekanisme yang berjalan dalam penganggar
an keuangan daerah antara pemerintah dan DPR. Demikian disampaikan Wakil Ketua DPR Anis Matta dalam konferensi pers di DPR, Rabu (2/5). “Rapat kordinasi antara pimpinan Banggar dengan Menkeu hanya memberikan klarifikasi kepada Menkeu terkait beberapa detail dalam UU APBN. Rapat ini sama sekali tidak berwenang mengambil keputusan apapun apalagi sampai merubah isi Undang-Undang. Inilah yang tidak dipahami Wa Ode,” tegas Anis. Untuk itu, Anis tetap akan mendorong KPK untuk menelusuri dugaan pihak-pihak yang menerima dana dari Wa Ode. Menurutnya, penting untuk mengetahui siapa saja yang menikmati dana tersebut dan digunakan untuk kepentingan siapa. “KPK dapat fokus menelusuri dugaan siapa saja yang menikmati dana yang dikorupsi oleh Wa Ode. Sehingga jelas dan tidak ada fitnah dan pencemaran nama baik lagi, tutup Anis. *http://www.fpks.or.id/2012/05/merasa-difitnah-anis-matta-akan-maafkan-wa-ode/ ___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesi
 

Al-Qur’an vs Akal


Ilustrasi (inet)
dakwatuna.com – Pernahkah kita mendengar tentang pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita untuk memahami agama kita? Pernah pula-kah kita mendengar tentang pendapat yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita untuk memahami Al-Qur’an?
Pendapat-pendapat ini, mungkin didasari pada argumentasi yang pada awalnya benar, yaitu untuk mencegah agar kita tidak terlalu liar dalam menafsirkan Al-Qur’an. Tapi lama kelamaan pendapat ini berkembang menjadi pendapat yang tidak bisa dibenarkan. Dengan adanya pendapat seperti ini, akhirnya muncullah generasi yang tidak mau membuka Al-Qur’an, lalu malah sibuk dengan hal-hal yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, seperti fatwa-fatwa ulama atau pertentangan-pertentangan fiqih, atau mungkin pula tema-tema lain yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tema bid’ah.
Pernahkah kita melihat orang yang sibuk membahas masalah bid’ah, atau membahas fatwa-fatwa dari ulama tertentu, atau sibuk membahas perbedaan tata cara ibadah dan menyalahkan orang yang berbeda tata cara ibadahnya? Kalau kita sudah pernah melihat orang yang seperti ini, mari kita renungkan, mengapa mereka bisa menjadi seperti itu?
Salah satu sebab mengapa mereka bisa menjadi seperti itu adalah, karena dalam kajian-kajian yang ada, yang dijadikan sebagai tema utama adalah fatwa-fatwa ulama, atau maksimal sekali, hadits-hadits nabi.
Apakah hal ini salah? Tentu saja tidak, karena kita jelas butuh hadits nabi dan fatwa ulama sebagai pelengkap pemahaman kita. Tapi hal ini bisa menjadi salah manakala Al-Qur’annya justru malah ditinggalkan.
Inilah yang terjadi di kalangan kita saat ini. Banyak anak muda yang dijejali dengan fatwa-fatwa ulama tentang suatu hal, misalnya tentang bid’ah, tentang isbal, tentang haramnya politik, tentang haramnya musik dan lainnya, padahal tentang hal ini bisa jadi ada perbedaan pendapat di kalangan ulama, dan di saat yang sama anak-anak muda itu tidak diajari untuk menghafal Al-Qur’an, tidak diajari untuk memahaminya, dan tidak diajari pula untuk mengamalkannya.
Mengapa sampai bisa begini?
Salah satu penyebabnya adalah karena ada sudut pandang, yang meskipun mungkin tidak akan diakui, tapi jelas-jelas terlihat, yang seolah-olah mengatakan bahwa diri kita ini terlalu kotor untuk bisa memahami Al-Qur’an. Atau, kita ini bodoh dan tidak pantas membaca Al-Qur’an langsung. Atau, kalau kita ini membaca Al-Qur’an langsung, maka besar kemungkinan kita akan salah dalam memahaminya, jadi bahaya, dan lebih baik tidak membaca Al-Qur’an. Atau, kita ini wajib harus menggunakan tafsir untuk memahami Al-Qur’an, padahal kitab tafsir itu rata-rata tebal-tebal, dan mayoritas kita malah jarang ada yang punya.
Dengan adanya sudut pandang seperti ini, akhirnya lahirlah sudut pandang lain, yaitu sudut pandang yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menggunakan akal kita dalam memahami Al-Qur’an. Padahal pada kenyataannya, tidak semua ayat Al-Qur’an butuh penafsiran yang rumit, malah sebagian besar ayat Al-Qur’an adalah ayat-ayat yang tidak butuh penafsiran sama sekali (mudah dipahami). Sayangnya, sudut pandang ini lalu benar-benar digunakan sebagai argumentasi yang pada akhirnya malah menjauhkan manusia dari Al-Qur’an. Alasannya, akal kita tidak akan mampu memahami Al-Qur’an. Atau, akal kita tidak akan mampu memahami Al-Qur’an kalau tidak disertai dengan kitab tafsir yang tebal-tebal, atau lainnya. Pada akhirnya, karena tema Al-Qur’an adalah tema yang dirasa “terlalu berat” bagi akal sebagian umat manusia, maka, tema yang diambil dalam kajian-kajian akhirnya adalah tema yang benar-benar tidak mengacu pada Al-Qur’an lagi. Jadi, muncullah hal-hal yang saat ini mungkin sudah ada banyak di keliling kita, yaitu kajian-kajian yang tidak pernah menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai tema utama, lalu lebih memilih untuk membahas pendapat-pendapat ulama tertentu atau membahas tema-tema tertentu yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tema bid’ah. Alasannya bisa jadi banyak, di antaranya mungkin adalah keterbatasan ilmu si nara sumber itu sendiri. Tapi alasan lainnya adalah, karena adanya sudut pandang bahwa akal kita tidak akan mampu dan tidak boleh digunakan untuk memahami Al-Qur’an ini.
Yang paling ironis adalah, pada beberapa kajian tertentu, kadang-kadang secara vulgar malah disebutkan dan diajarkan bahwa akal kita adalah racun dalam memahami agama kita ini. Jadi, akal kita harus dikunci mati. Kita harus menerima semua apa kata ustadz apa adanya, lengkap dengan dalil-dalil yang tidak boleh diutak-atik lagi, dan semua itu harus kita telan ke dalam otak kita meskipun kita sendiri tidak memahaminya. Inilah awal dari sebuah doktrin. Dan dengan doktrin seperti ini, akhirnya lahirlah generasi yang menganggap hanya ucapan ustadz-nya saja-lah yang benar, hanya pendapat ulama-nya saja-lah yang benar, lalu sibuk membid’ahkan kelompok yang berbeda pendapat, dan kalau mereka dibantah dengan dalil yang berbeda, mereka akan membantah pula dengan ucapan:
“Ikutilah pendapat ulama kami, jangan ikuti akal-mu, karena akal adalah racun!”.
Ini adalah satu contoh hasil doktrinasi yang pada awalnya dimulai dari sudut pandang yang sederhana, yaitu: Akal kita ini kotor!
Akal menurut Al-Qur’an

Lalu, bagaimana sebenarnya posisi akal kita menurut Al-Qur’an?
Mari kita lihat sendiri bagaimana Al-Qur’an menilai akal kita, misalnya dari ayat-ayat di bawah ini.
1. Orang-orang kafir adalah orang-orang yang tidak mau menggunakan akal mereka.
“Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” (QS. Al-Maa’idah, surat 5, ayat 58)
2. Kita diperintahkan untuk menggunakan akal kita dalam merenungi kondisi orang yang sudah tua.
“Dan barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan dia kepada kejadian(nya). Maka apakah mereka tidak memikirkan? (QS. Yaasiin, surat 36, ayat 68)
3. Nabi Musa meminta Fir’aun untuk menggunakan akalnya.
Musa berkata: “Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya: (Itulah Tuhanmu) jika kamu mempergunakan akal.” (QS. Asy-Syu’araa’, surat 26, ayat 28)
4. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita dalam merenungi tanda-tanda kebesaran Allah.
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebahagian tanam-tanaman itu atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Ra’d, surat 13, ayat 4)
5. Allah memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita dalam memahami Al-Qur’an.
“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.” (QS. Yusuf, surat 12, ayat 2)
“Sesungguhnya Kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya).” (QS. Az-Zukhruf, surat 43, ayat 3)
6. Orang yang tidak mau menggunakan akal mereka untuk memahami peringatan yang ada, maka mereka akan masuk ke dalam neraka.
Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk, surat 67, ayat 10)
Dari beberapa ayat di atas, jelas sekali terlihat bahwa sebenarnya akal kita ini adalah satu hal yang positif. Dan kita wajib menggunakan akal kita untuk memahami agama kita ini, termasuk di dalamnya adalah untuk memahami Al-Qur’an. Tentu saja, “mengakali Al-Qur’an” seperti yang dilakukan oleh kelompok Liberal adalah satu hal yang dilarang. Tapi menggunakan akal kita secara wajar untuk memahami agama kita dan memahami Al-Qur’an adalah suatu keharusan.
Jadi, kalau kita masih menjumpai ada orang-orang yang malah melarang kita untuk menggunakan akal kita dalam memahami agama kita ini, mari kita sodorkan ayat-ayat di atas, dan mari kita tanya apa pendapat mereka tentang ayat-ayat tsb.
Akhir kata, sudut pandang yang mengatakan bahwa “akal kita kotor” adalah sudut pandang yang tidak bisa dibenarkan. Dan dari sudut pandang ini, akhirnya muncullah generasi yang tidak mau mempelajari Al-Qur’an, dan malah sibuk mempelajari hal-hal lain yang tidak ada di dalam Al-Qur’an, misalnya tentang bid’ah, yang akhirnya mengakibatkan terjadinya pertentangan di mana-mana, lalu mereka juga pasti akan bersikap “mau menang sendiri” dalam berdebat, karena dari awal udah didoktrin untuk mematikan akal mereka. Jadi, mari kita gunakan akal kita untuk memahami Al-Qur’an dalam batasan yang wajar, tanpa perlu sibuk menafsirkan ayat-ayat yang kita memang tidak bisa memahaminya secara langsung. Jangan ikuti pendapat yang mengatakan bahwa akal kita tidak boleh kita gunakan untuk memahami Al-Qur’an, karena justru ayat Al-Qur’an sendiri-lah yang memerintahkan kita untuk menggunakan akal kita agar bisa memahami ayat-ayat tersebut. Dan jangan pula kita mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa Al-Qur’an itu terlalu sulit bagi akal kita, karena Allah sendiri sudah jelas-jelas menyebutkan bahwa Allah sudah membuat Al-Qur’an ini mudah, agar kita mampu mengambil pelajaran darinya.
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar, surat 54, ayat 17, 22, 32, 40)

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/06/20949/al-quran-vs-akal/#ixzz1xANtfRg2
 

Hikmah.....

Kisah seekor monyet

Seekor anak monyet bersiap-siap hendak melakukan perjalanan jauh. Ia merasa sudah bosan dengan hutan tempat hidupnya sekarang. Ia mendengar bahwa di bagian lain dunia ini ada tempat yang disebut "hutan" di mana ia berpikir akan mendapatkan tempat yang lebih "baik". "Aku akan mencari kehidupan yang lebih baik!" katanya. Orangtua si Monyet, meskipun bersedih, melepaskan kepergiannya. "Biarlah ia belajar untuk kehidupannya sendiri," kata sang Ayah kepada sang Ibu dengan bijak.

Maka pergilah si Anak Monyet itu mencari "hutan" yang ia gambarkan sebagai tempat hidup kau Monyet yang lebih baik. Sementara kedua orangtuanya tetap tinggal di hutan itu. Waktu terus berlalu, sampai suatu ketika, si Anak Monyet itu secara mengejutkan kembali ke orangtuanya. Tentu kedatangan anak semata wayang itu disambut gembira orangtuanya.

Sambil berpelukan, si Anak Monyet berkata, "Ayah, Ibu, aku tidak menemukan hutan seperti yang aku angan-angankan. Semua binatang yang aku temui selalu keheranan setiap aku menceritakan bahwa aku akan bergi ke sebuah tempat yang lebih baik bagi semua binatang yang bernama hutan." "Malah, mereka mentertawakanku." sambungnya sedih. Sang Ayah dan Ibu hanya tersenyum mendengarkan si Anak Monyet itu. "Sampai aku bertemu dengan Gajah yang bijaksana," lanjutnya, "Ia mengatakan bahwa sebenarnya apa yang aku cari dan sebut sebagai hutan itu adalah hutan yang kita tinggali ini!. Kamu sudah mendapatkan dan tinggal di m hutan itu!" Benar, anakku. Kadang-kadang kita memang berpikir tentang hal-hal yang
jauh, padahal apa yang dimaksud itu sebenarnya sudah ada di depan mata."

Kita semua adalah si Anak Monyet itu. Hal-hal sederhana, hal-hal ada di sekitar kita tidak kita perhatikan. Justru kita melihat hal yang "jauh-jauh" yang pada dasarnya sudah di depan mata. Kita gelisah dengan karir pekerjaan, kita gelisah dengan sekolah anak-anak, kita gelisah dengan segala
rencana kehidupan kita. Padahal, yang pekerjaan kita sekarang adalah bagian dari karir kita. Padahal, anak-anak kita bersekolah sekarang adalah bagian dari proses pendidikan mereka dan hidup yang kita jalani adalah bagian dari rangkaian kehidupan kita ke masa yang akan datang.

Tanpa mengecilkan arti masa depan dan sesuatu yang lebih baik, ada baiknya apabila kita fokus dengan apa yang ada di depan mata, apa yang kita kerjakan sekarang, karena hal ini akan berpengaruh terhadap masa depan Anda. Dia memandangku dan berkata, "Kamu belajar dengan cepat, tapi jawabanmu masih salah karena banyak orang yang buta."

Gagal lagi, aku meneruskan usahaku mencari jawaban baru dan dari tahun ke tahun, Ibu terus bertanya padaku beberapa kali dan jawaban dia selalu, "Bukan. Tapi, kamu makin pandai dari tahun ke tahun, anakku."

Akhirnya tahun lalu, kakekku meninggal. Semua keluarga sedih. Semua menangis. Bahkan, ayahku menangis. Aku sangat ingat itu karena itulah saat kedua kalinya aku melihatnya menangis. Ibuku memandangku ketika tiba giliranku untuk mengucapkan selamat tinggal pada kakek.

Dia bertanya padaku, "Apakah kamu sudah tahu apa bagian tubuh yang paling penting, sayang?"

Aku terkejut ketika Ibu bertanya pada saat seperti ini. Aku sering berpikir, ini hanyalah permainan antara Ibu dan aku.

Ibu melihat kebingungan di wajahku dan memberitahuku, "Pertanyaan ini penting. Ini akan menunjukkan padamu apakah kamu sudah benar- benar"hidup". Untuk semua bagian tubuh yang kamu beritahu padaku dulu, aku selalu berkata kamu salah dan aku telah memberitahukan kamu kenapa. Tapi, hari ini adalah hari di mana kamu harus belajar pelajaran yang sangat penting."

Dia memandangku dengan wajah keibuan. Aku melihat matanya penuh dengan air mata. Dia berkata, "Sayangku, bagian tubuh yang paling penting adalah bahumu." Aku bertanya, "Apakah karena fungsinya untuk menahan kepala?" Ibu
membalas, "Bukan, tapi karena bahu dapat menahan kepala seorang teman atau orang yang kamu sayangin ketika mereka menangis. Kadang-kadang dalam hidup ini, semua orang perlu bahu untuk menangis. Aku cuma berharap, kamu punya cukup kasih sayang dan teman-teman agar kamu selalu punya bahu untuk menangis kapan pun kamu membutuhkannya."

Akhirnya, aku tahu, bagian tubuh yang paling penting adalah tidak menjadi orang yang mementingkan diri sendiri. Tapi, simpati terhadap penderitaan yang dialamin oleh orang lain. Orang akan melupakan apa yang kamu katakan... Orang akan melupakan apa yang kamu lakukan... Tapi, orang TIDAK akan pernah lupa bagaimana kamu membuat mereka berarti.

"Masa depan Anda, karir Anda, serta kehidupan Anda adalah yang Anda kerjakan hari ini."
 

Sejarah

Kisah Pemuda Yang Bernama Uzair

Pada suatu hari ketika 'Uzair memasuki kebunnya yang menghijau dengan pokok-pokok tamar dan tiba-tiba hatinya telah terpesona serta tertarik untuk memikirkan rahsia keindahan dan keajaiban alam ini. Sesudah memetik buah-buahan dia pulang dengan keldainya sambil menikmati keindahan-keindahan alam sekitarnya sehingga keledai yang ditungganginya tersesat jalan. Setelah sekian lama barulah dia sedar bahawa dia telah berada di suatu daerah yang tidak dikenali oleh beliau serta sudah jauh dari negerinya sendiri.

Sebaik sahaja dia sampai ke daerah itu dilihatnya kampung itu baru sahaja diserbu oleh musuh-musuh sehingga menjadi rosak-binasa sama sekali. Di tapak atau bekas runtuhan terdapat mayat-mayat manusia yang bergelimpangan yang sudah busuk serta hancur. Melihatkan pemandangan yang mengerikan itu, dia pun turun dari keldainya dengan membawa dua keranjang buah-buahan. Manakala keldainya itu ditambat di situ, kemudian dia pun duduk bersandar pada dinding sebuah rumah yang sudah runtuh bagi melepaskan penatnya. Dalam pada itu, fikirannya mula memikirkan mayat manusia yang sudah busuk itu.

"Bagaimana orang-orang yang sudah mati dan hancur itu akan dihidupkan oleh Tuhan kembali di negeri akhirat?" begitulah pertanyaan yang datang bertalu-talu dan tidak terjawab olehnya sehingga dia menjadi lemah-longlai dan kemudian terus tertidur. Dalam tidur itu, dia seakan-akan bertemu dengan semua arwah (roh-roh) orang-orang yang sudah meninggal itu. Tidurnya amat luar biasa sekali, bukan hanya sejam atau semalam, tetapi dia telah tidur terus-menerus tanpa bangun-bangun selama seratus tahun lamanya.

Dalam masa dia tertidur itu, keadaan di sekitarnya sudah ramai lapisan baru, rumah serta bangunan-bangunan banyak yang telah didirikan. Dalam masa seratus tahun itu, segala-galanya sudah berubah, manakal 'Uzair tetap terus tidur tersandar di dinding buruk itu menjadi jasad (tubuh) yang tidak bernyawa lagi. Dagingnya sudah hancur dan tulang belulangnya sudah hancur lebur berderai. Kemudian jasad 'Uzair yang telah mati, daging dan tulangnya yang sudah hancur itu disusun kembali oleh Allah s.w.t. pada bahagiannya masing-masing lalu ditiupkan ruhnya. Dan ketika itu juga 'Uzair hidup kembali seperti dahulu. 'Uzair terus berdiri seperti orang yang bangun dari tidur lantas dia mencari keldai dan buah-buahannya di dalam keranjang dahulu.

Tidak berapa lama kemudian, turunlah beberapa malaikat seraya bertanya, "Tahukah engkau ya 'Uzair berapa lama engkau tidur?" Tanpa berfikir panjang 'Uzair menjawab, "Saya tertidur sehari dua ataupun setengah hari." Lalu malaikat pun berkata kepadanya, "Bahawa engkau terdampar di sini genap seratus tahun lamanya. Disinilah engkau berbaring, berhujan dan berpanas matahari, kadang-kadang ditiup badai dan berhawa sejuk dan juga panas terik. Dalam masa yang begitu panjang, makanan engkau tetap baik keadaannya. Tetapi cuba lihat keadaan keldai itu, dia sendiri pun sudah hancur dan dagingnya sudah busuk."

Berkata malaikat lagi, "Lihatlah dan perhatikanlah sungguh-sungguh. Demikianlah kekuasaan Allah s.w.t. Allah s.w.t. dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati dan mengembalikan jasad-jasad yang sudah hancur lebur dan dengan semudah itu pulalah Tuhan akan membangkitkan semua manusia yang sudah mati itu nanti di akhirat untuk diperiksa dan diadili segala perbuatannya. Hal ini diperlihatkan oleh Tuhan kepada engkau supaya iman engkau tetap dan engkau sendiri dapat menjadi bukti kepada manusia-manusia lain supaya engkau dan manusia-manusia lain tiada syak dan ragu-ragu lagi tentang apa yang diterangkan Tuhan tentang akhirat itu."

Setelah 'Uzair melihat makanan dan keldainya yang sudah hancur itu, maka 'Uzair pun berkata, "Sekarang tahulah saya bahawa Allah s.w.t. itu adalah berkuasa ke atas tiap-tiap sesuatu." Tiba-tiba keldai yang sudah hancur berderai itu dilihatnya mulai dikumpulkan daging dan tulangnya. Dan akhirnya menjadi seperti sediakala iaitu hidup kembali bergerak-gerak dan berdiri sebagaimana sebelum mati. Maka 'Uzair pun berkata, "Sekarang tahulah saya bahawa Allah s.w.t. berkuasa di atas segala-galanya." Lalu dia pun terus mengambil keldainya dahulu dan terus menunggangnya pulang ke rumahnya dahulu dengan mencari-cari jalan yang sukar untuk dikenali. Dilihatnya segala-gala telah berubah. Dia cuba mengingati apa yang pernah dilihatnya seratus tahun dahulu. Setelah menempuhi berbagai kesukaran, akhirnya dia pun sampai ke rumahnya. Sebaik sahaja dia sampai di situ, dia mendapati rumahnya sudah pun buruk di mana segala dinding rumahnya telah habis runtuh. Semasa dia memandang keadaan sekeliling rumahnya, dia ternampak seorang perempuan tua, lantas dia pun bertanya, "Inikah rumah tuan 'Uzair?"

"Ya," jawab perempuan itu. "Inilah rumah 'Uzair dahulu, tetapi 'Uzair telah lama pergi dan tiada didengar berita tentangnya lagi sehingga semua orang pun lupa padanya dan saya sendiri tidak pernah menyebut namanya selain kali ini sahaja." Kata perempuan itu sambil menitiskan airmata. 'Sayalah 'Uzair," jawab 'Uzair dengan pantas. "Saya telah dimatikan oleh Tuhan seratus tahun dahulu dan sekrang saya sudah dihidupkan oleh Allah s.w.t. kembali." Perempuan tua itu terkejut seakan-akan tidak percaya, lalu dia pun berkata, "'Uzair itu adalah seorang yang paling soleh, doanya selalu dimakbulkan oleh Tuhan dan telah banyak jasanya di dalam menyembuhkan orang yang sakit tenat." Sambunya lagi, "Saya ini adalah hambanya sendiri, badan saya telah tua dan lemah, mata saya telah pun buta kerana selalu menangis terkenangkan 'Uzair. Kalaulah tuan ini 'Uzair maka cubalah tuan doakan kepada Tuhan supaya mata saya terang kembali dan dapat melihat tuan."

"Uzair pun menadah kedua belah tangannya ke langit lalu berdoa ke hadrat Tuhan. Tiba-tiba mata orang rua itupun terbuka dan dapat melihat dengan lebih terang lagi. Tubuhnya yang tua dan lemah itu kembali kuat seakan-akan kembali muda. Setelah merenung wajah 'Uzair dia pun berkata, "Benar, tuanlah 'Uzair. Saya masih ingat." Hambanya itu terus mencium tangan 'Uzair lalu keduanya pergi mendapatkan orang ramai, bangsa Israil. 'Uzair memperkenalkan dirinya bahawa dialah 'Uzair yang pernah hidup di kampung itu lebih seratus tahun yang lalu.

Berita itu bukan sahaja mengejutkan bangsa Israil, tetapi ada juga meragukan dan ada yang tidak percaya kepadanya. Walau bagaimanapun berita itu menarik perhatian semua orang yang hidup ketika itu. Kerana itu mereka ingin menguji kebenaran 'Uzair. Kemudian datanglah anak kandungnya sendiri seraya bertanya, "Saya masih ingat bahawa bapa saya mempunyai tanda di punggungnya. Cubalah periksa tanda itu. Kalau ada benarlah dia 'Uzair."Tanda itu memang ada pada 'Uzair, lalu percayalah sebahagian daripada mereka. Akan tetapi sebahagian lagi mahukan bukti yang lebih nyata, maka mereka berkata kepada 'Uzair, "Bahawa sejak penyerbuan Nebukadnezar ke atas bangsa dan negara Israil dan setelah tentera tersebut membakar kitab suci Taurat, maka tiadalah seorang pun bani Israil yang hafal isi Taurat kecuali 'Uzair sahaja. Kalau benarlah tuan Uzair, cubalah tuan sebutkan isi Taurat yang betul."

'Uzair pun membaca isi Taurat itu satu persatu dengan fasih dan lancar serta tidak salah walaupun sedikit. Mendengarkan itu barulah mereka percaya bahawa sungguh benar itulah 'Uzair. Ketika itu, semua bangsa Israil punpercaya bahawa dialah 'Uzair yang telah mati dan dihidupkan semual oleh Tuhan. Banyak di antara mereka yang bersalam dan mencium tangan 'Uzair serta meminta nasihat dan panduan daripadanya. Tetapi sebahagian daripada kaum Yahudi yang bodoh menganggap 'Uzair sebagai anak Tuhan pula. Maha Suci Allah tidak mempunyai anak samada 'Uzair mahupun Isa kerana semua makhluk adalah kepunyaan-Nya belaka. Janganlah kita was-was tentang kekuasaan Allah s.w.t., maka hendaklah dia fikir siapakah yang menciptakan dirinya itu. Adalah mustahil sesuatu benda itu terjadi dengan sendirinya tanpa ada yang menciptakan. Kalau masih ada orang yang ragu-ragu tentang kekuasaan Allah s.w.t., ubatnya hanya satu sahaja, hendaklah dia membaca dan memahami al-Quran, was-was terhadap kekuasaan Allah s.w.t. itu hanya datangnya dari syaitan.

Allah s.w.t. telah meletakkan akal dalam kepala kita untuk berfikir, oleh itu gunakanlah akal kita untuk berfikir.
 
 
Copyright © 2012. Wahyu setio - All Rights Reserved
Support by : PKS TEMPLATE